Rumah Terduga Teroris di Cengkareng Digrebek, Ini Penjelasan Keluarga

Jakarta – Di sebuah rumah kontrakan dengan tumpukan macam barang di ruang depan, tepatnya berada di pojokan Jalan di kawasan Bambu Larangan RT 001/05 Cengkareng Jakarta Barat, sejumlah awak media berhasil menemui adik terduga TH yang ditangkap Densus 88 anti teror pada Jumat (11/10)

Hilmy Salim (17) menceritakan sosok kakaknya (TH), yang ditangkap Densus 88 Antiteror karena diduga mendukung ISIS/Daulah.

“TH dikenal sebagai orang yang tak menentu. Kadang galak, kadang baik. Tapi sering ribut sama bapaknya,” ungkap Hilmy saat berbincang di kediamannya di Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu (13/10/2019).

Keributan biasanya terjadi di rumah menjelang malam. Hilmy tak pernah ikut campur, hanya diam dan mendengarkan kalimat demi kalimat kasar keluar dari mulut kakaknya.

“Nama-nama hewan keluar biasanya kalau lagi ribut. Tapi bapak biasanya mengalah. Memang agak susah dinasehati,” jelas Hilmy.

TH sudah dua minggu tidak tinggal di rumah keluarganya. Dia mengontrak tak jauh dari tempat kerjanya di sebuah toko daring dekat pasar swalayan.

“Ke rumah pas gajian, bantu pinjam uang buat bayar kontrakan, tapi diminta lagi sama dia. Terus di rumah paling belajar baca-baca buku yang kemarin dibawa sama polisi pas penggeledahan,” ujarnya.

Hilmy mengaku kakaknya baru di tahap belajar hal tersebut, tidak pernah dia melihat TH melakukan hal-hal yang aneh, entah itu merakit bom atau bahkan merancang penyerangan.

“Saya kasihan juga. Bapak juga kaget enggak bisa tidur semalam mikirin abang (TH). Tapi ya mungkin buat pelajaran juga,” kata Hilmy.

Menurut Hilmy, si sulung memang dekat dengan ibunda. Sejak sang ibunda meninggal tiga tahun lalu, Hilmy menceritakan, TH mulai bergabung dengan perkumpulan dan merangkum catatan itu.

Hilmy tak mengetahui rinci apa yang didiskusikan dalam perkumpulan tersebut, apalagi tujuan TH merangkum catatan Imam Mahdi.

Menurut laki-laki 17 tahun ini, TH pendiam dan jarang bercerita dengan anggota keluarga yang lain. Hilmy sendiri hanya tahu TH rajin pergi ke Bekasi seminggu sekali.

“Enggak tahu ngapain. Saya sudah nanya, katanya main aja sama temen nongkrong,” ujar Hilmy.

Hilmy melanjutkan, perlakuan TH ke keluarga pun berubah. Dia kerap tak mendengarkan nasihat sang ayah. Bahkan, mengabaikan perkataan ayahnya untuk menyingkirkan bendera, topi, dan ikat kepala ISIS yang telah disimpan sejak 2016.

“Bapak sudah tahu bendera, buku. Sudah dibilangin dari lama suruh buang tapi enggak mau dengar, bandel anaknya keras. Disimpen saja akhirnya ketahuan,” ucap Hilmy.

Terpisah, ayah TH, Yuspian (49) mengatakan, buku-buku yang kerap dibaca anak sulungnya sudah ada sejak TH SMK.

“Sempat saya larang pas ada tulisan-tulisan begitu, tapi dia biasa saja, tetap disimpan. Bukunya dibaca, benderanya disimpan,” ucap Yuspian.

Yuspian dan Hilmy mengaku pernah diajak mempelajari apa yang dibaca oleh TH. Namun, keduanya sama-sama tak tertarik hal tersebut.

“Saya malas saja. Dia setiap pulang kerja sebelum ngontrak, baca buku itu di kamar. Setelah ngontrak sudah jarang lagi, mungkin karena sibuk kerja,” tutur Yuspian.

Sekedar diketahui, Densus 88 anti teror menggerebek rumah terduga teroris berinisial TH di kawasan Bambu Larangan Cengkareng Jakarta Barat pada Jumat (11/10).

Sebanyak 7 buah buku, 3 buah bendel catatan, dan 8 buah kertas ISIS dibawa pihak Densus.

Sisanya ada 2 buah bendera, 1 buah ikat kepala, 2 buah topi, 1 lembar foto pahlawan, serta 1 buah pisau lipat juga ikut dibawa polisi pada hari penggeledahan.

TH diduga terlibat dalam kelompok media sosial yang mendukung ISIS atau Daulah, dan diduga berbaiat kepada Al Baghdadi bersama kelompok Abu Zee.

TH juga diduga mengikuti idad di Taman dan Lapangan perumahan Puri Cendana. Serta, diduga mengetahui perencanaan aksi amaliyah yang dilakukan kelompok Abu Zee.

Kabar penangkapan tersebut dikonfirmasi Kapolsek Cengkareng Polres Metro Jakarta Barat Kompol Khoiri.

“Informasinya seperti itu, densus 88 yang bergerak,”ujar Khoiri saat dikonfirmasi wartawan.(indra)

Loading...

Tinggalkan Balasan