JAKARTA | Indonesian Post – Tanggal 10 Februari menandai perayaan Teddy Day dalam rangkaian Valentine Week. Pada momen ini, banyak pasangan saling memberi boneka teddy sebagai simbol kasih sayang. Karena tradisi ini terasa sederhana, banyak orang memilihnya untuk menyampaikan perhatian secara tulus.
Selain itu, boneka teddy memiliki bentuk lucu yang identik dengan kehangatan. Oleh karena itu, banyak pasangan menjadikannya hadiah yang berkesan. Tidak hanya sebagai simbol cinta, boneka ini juga sering menjadi kenang-kenangan dari momen spesial.
Sementara itu, Valentine Week sendiri berlangsung sejak 7 hingga 14 Februari. Rangkaian perayaan dimulai dengan Rose Day, lalu berlanjut ke Propose Day dan Chocolate Day. Kemudian, orang merayakan Teddy Day sebelum memasuki Promise Day, Hug Day, Kiss Day, dan puncaknya Valentine’s Day.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Awalnya, tradisi boneka teddy berasal dari Amerika Serikat. Nama “teddy bear” muncul dari sosok Presiden Theodore Roosevelt. Kisah tersebut berawal ketika Roosevelt menolak menembak anak beruang saat berburu.
Karena kisah itu menyentuh banyak orang, seorang pembuat mainan terinspirasi untuk membuat boneka beruang kecil. Ia lalu menamainya “teddy bear.” Sejak saat itu, masyarakat mengenal boneka tersebut sebagai simbol kehangatan dan kasih sayang.
Di era media sosial, banyak orang merayakan Teddy Day secara digital. Mereka membagikan ucapan, foto hadiah, dan pesan romantis melalui berbagai platform. Akibatnya, tagar terkait Teddy Day hampir selalu masuk daftar trending setiap 10 Februari.
Namun, Teddy Day tidak hanya berlaku bagi pasangan. Banyak orang juga memberi boneka teddy kepada sahabat, keluarga, atau anak-anak. Dengan begitu, tradisi ini menegaskan bahwa kasih sayang bisa dibagikan kepada siapa saja.
Pada akhirnya, Teddy Day menjadi momen sederhana yang terasa bermakna. Hadiah kecil ini mampu menghadirkan rasa hangat dan perhatian. Oleh karena itu, tradisi Teddy Day terus bertahan dan semakin populer setiap tahun..






